MUTHMAINNAH R.A.

G64100076

Laskar 2

Cerita Inspirasi 2

Sosok seorang Purdi E. Chandra

Purdi E Chandra lahir di Lampung 9 September 1959. Secara “tak resmi” Purdi sudah mulai berbisnis sejak ia masih duduk di bangku SMP di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, dan kemudian menjual telurnya di pasar.
Bisnis “resminya” sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta.
Namun karena merasa “tidak mendapat apa-apa” ia nekad meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis. Dengan “jatuh bangun” Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100 ribu orang per-tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena perkembangan itu Primagama ahirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).
Lego Motor, Berhenti Kuliah
Bukan suatu kebetulan jika pengusaha sukses identik dengan kenekatan mereka untuk berhenti sekolah atau kuliah. Seorang pengusaha sukses tidak ditentukan gelar sama sekali. Inilah yang dipercaya Purdi ketika baru membangun usahanya.
Kuliah di 4 jurusan yang berbeda, Psikologi, Elektro, Sastra Inggris dan Farmasi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan IKIP Yogya membuktikan kecemerlangan otak Purdi. Hanya saja ia merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan pola kuliah yang menurutnya membosankan. Ia yakin, gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal meraih cita-cita. Purdi muda yang penuh cita–cita dan idealisme ini pun nekad meninggalkan bangku kuliah dan mulai serius untuk berbisnis.
Sejak saat itu pria kelahiran Punggur, Lampung Tengah ini mulai menajamkan intuisi bisnisnya. Dia melihat tingginya antusiasme siswa SMA yang ingin masuk perguruan tinggi negeri yang punya nama, seperti UGM.
Bagaimana jika mereka dibantu untuk memecahkan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi, pikirnya waktu itu. Purdi lalu mendapatkan ide untuk mendirikan bimbingan belajar yang diberi nama, Primagama. “Saya mulai usaha sejak tahun 1982. Mungkin karena nggak selesai kuliah itu yang memotivasi saya menjadi pengusaha,” kisah Purdi. Lalu, dengan modal hasil melego motornya seharga 300 ribu rupiah, ia mendirikan Bimbel Primagama dengan menyewa tempat kecil dan disekat menjadi dua. Muridnya hanya 2 orang. Itu pun tetangga. Biaya les cuma 50 ribu untuk dua bulan. Kalau tidak ada les maka uangnya bisa dikembalikan.
Segala upaya dilakukan Purdi untuk membangun usahanya. Dua tahun setelah itu nama Primagama mulai dikenal. Muridnya bertambah banyak. Setelah sukses, banyak yang meniru nama Primagama. Purdi pun berinovasi untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikannya ini.
“Sebenarnya yang bikin Primagama maju itu setelah ada program jaminan diri,” ungkapnya soal rahasia sukses mengembangkan Bimbel Primagama. ”Kalau ikut Primagama pasti diterima di Universitas Negeri. Kalau nggak uang kembali. Nah, supaya diterima murid-murid yang pinter kita angkat jadi pengajar. Karena yang ngebimbing pinter, ya 90% bisa lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri,” lanjutnya.
Sosok beliaulah yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang pengusaha. Ada pesan tersirat juga agar kita terus berusaha semaksimal mungkin walaupun jatuh bangun dalam menjalaninya. Toh pada dasarnya jika ada usaha maka ada hasilnya.

MUTHMAINNAH R.A.

G64100076

Laskar 2

Cerita Inspirasi 1

Mulai Berwirausaha

Hal pertama kali kuliah di Institut Pertanian Bogor, dan mengikuti PraMPKMB pengetahuan saya bertambah tentang IPB, salah satu pelesetannya Institut Pengusaha Bogor, dari kata itulah saya memberi judul cerita inspirasi saya.

Bermula dari setelah kuliah matrikulasi selesai, di kortan saya melihat ibu penjual “ papada”, saya langsung menghampirinya dan sempat dalam hati untuk menjalin kerjasama dengan ibu tersebut.

Kerjasama tersebut dengan cara saya memberi modal seluruhnya, sementara Ibu yang memasak dan menjualnya. Keuntungannya pun dibagi samarata. Kontrak ini pun berlangsung sampai saya wisuda, kalau lancar. Jika kontrak sudah selesai maka modal akan kembali lagi ke saya. Saya melakukan kerjasama ini pun bertujuan untuk menambah uang saku atau menabung. Tentunya kerjasama ini pun melalui akad kerjasama, walaupun tidak secara resmi di atas selembar kertas dan bermaterai. Kami hanya melakukan akad secara lisan dengan saling menjaga kepercayaan dan jujur tentunya.

Ketika saya membayar makanan tersebut, langsung saja saya tawarkan kerjasamanya, ibu pun menjawab, “ Boleh aja Kak, tapi besok Kakak ke sini lagi aja, soalnya ibu harus ngomong dulu dengan Bapak.”

Esok pun tiba…saya kembali ke kortan dan menagih kepastian keputusan kerjasamanya. Alhasil kebetulan Bapak dan Ibu hadir semua, dan Bapak berkata, “Baik Kak, kami semua setuju dengan kerjasamanya, dan mengenai pembagian laba tar , Saya setor ke Kakak per minggu aja ya? “ Alhamdulillah kerjasama saya dengan penjual papada berhasil. Hal ini pertama kalinya saya memulai berwirausaha. Semoga ke depan saya bisa berwirausaha yang lain dan kelak di samping menjadi pegawai mudah-mudahan menjadi seorang pengusaha, Aamiin.

28 Juni 2010 adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di Bogor Agricultural University alias IPB. Hari pertama saya registrasi di GWW. Sungguh bahagianya bisa masuk IPB setelah melalui proses belajar di SD, SMP, SMA dan akhirnya sampai di jenjang pendidikan terakhir S1 ilmu Komputer IPB. Insya Allah bisa S2 aamiin.

Setelah saya registrasi , semua mahasiswa baru digiring oleh kakak kelas untuk pergi lebih tepatnya mengunjungi stand-stand UKM dan OMDA. Setelah 15 menit kemudian, digiring ke asrama masing-masing. Kebetulan saya dapat di asrama A4 yang biasa dikenal dengan Rusunawa. sebuah bangunan berlantai enam, di mana lantai satu merupakan lobby, lantai dua-lima merupakan kamar-kamar para penghuni asrama. Dan lantai enam ialah tempat jemuran pakaian. Kesanku saat masuk kamar. waah…..lumayan besar juga, namun masih sepi..tapi saya sangat senang bisa kuliah di IPB. I love U IPB….

In my opinion, IPB luuuuaaaaaaaaaaassss sekali, banyak hutan. Pemandangannya wonderful..I LOVE U IPB…

IPB Badge
IPB Badge
March 2017
S M T W T F S
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031